AI SEBAGAI MUSUH ATAI PARTNER DALAM PENDIDIKAN ISLAM


AI SEBAGAI MUSUH ATAI PARTNER DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Di era Revolusi Industri 4.0 ketika ilmu teknologi dan komunikasi mulai berkembang ditambah lagi dengan munculnya kecerdasan buatan (artificial intelegent) maka era ini semakin mereduksi daya gerak dan peran manusia terhadap dunia, semuanya mulai dapat digantikan oleh kecerdasan buatan tersebut, lebih lanjut lagi di era globalisasi ini manusia cenderung pragmatis dan serba ingin cepat terhadap sesuatu yang dibutuhkan sedangkan daya kecepatan manusia untuk mengakomodir tidak lebih cepat dibandingkan kecepatan dari kecerdasan buatan tersebut.

Dengan demikian seperti yang diungkapkan Prof Azra bahwa pada era ini terjadi disrupsi, dislokasi, dan disorientasi. Kekacauan terjadi disebabkan kecepatan dari kecerdasan buatan yang sangat begitu cepat dibandingkan manusia itu sendiri sehingga perencanaan, konsep, dan program sulit untuk diterapkan secara kontekstual karena tantangan dan kondisi sedemikian cepat berubahnya. Ditambah lagi peran manusia semakin hilang dalam masyarakat karena dapat digantikan oleh kecerdasan buatan atau disebut juga dengan era otomatisasi. 

Disebabkan itu, saat sekarang ini muncul revolusi industri 5.0 yaitu titik tekannya adalah kolaborasi manusia terhadap teknologi buatan tersebut guna tetap mempertahankan eksistensi manusia dalam masyarakat. Haidar bagir menyebutkan kemunculan AI boleh jadi sebagai penanda awal tercuatnya kemampuan manusia yang sesungguhnya yang jauh lebih dahsyat daripada yang telah ditunjukkannya selama ini. Berdasarkan ini maka AI bukan malah menjadi kiamat bagi manusia akan tetapi malah menjadi jalan untuk membuka tabir kemampuan luhur dari manusia yang selama ini belum terekplorasi. 

Prof Abudinata menyebutkan dalam dunia Islam, khususnya di Indonesia terdapat 3 tipologi yang menyikapi fenomena teknologi digital tersebut. Pertama, kelompok yang psimistik dan curiga, kelompok ini cenderung solih secara moral individual akan tetapi tertinggal secara sosial, Kedua, kelompok optimistik, mereka cenderung berlebihan (hyper) dalam penggunaan teknologi tanpa filter yang berasaskan kesiapan mental, eknomi, dan budaya. Yang terakhir, kelompok yang moderat dan bijaksana yaitu mereka memposisikan teknologi sebagai media bukan sebagai hasil akhir (final) yang berasaskan dengan konsep literasi digital seperti yang diungkapakan M. Ainul Yaqin.

Berdasarkan hal tersebut di atas maka sikap skeptis yang membabi buta tanpa didasari kebijaksanaan dan rasionalitas terhadap Ai harus mulai digeser dengan berkolaborasi dengan Ai dan memanfaatkannya secara cerdas dan bijaksana dan berbasis moral dan etik agar tetap dapat bersaing di era ini. Termasuk dalam konteks pendidikan, pihak sekolah khususnya sekolah berbasis keagamaan seperti pondok pesantren dan madrasah termasuk di dalamnya guru sebagai praktisi yang terjun langsung dalam penerapan pendidikan tidak dapat lagi memaksakan  dan jumud untuk menolak teknologi ini terlebih lagi dalam proses pembelajaran berlangsung justru paradigma ini harus diganti dengan paradigma baru yaitu menjadikan teknologi tersebut menjadi sebuah media dalam proses pembelajaran guna menciptakan ulama-intelektual yang progresif dan berkemajuan. Jangan sampai para penolak sekularisasi dalam beragama justru yang memperkuat konsep sekularisasi tersebut dengan pola yang sudah disebutkan di atas. 
 
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Islam merupakan agama yang kontekstual, dinamis, dan moderat sehingga paradigma integrated dalam kelimuan termasuk dengan konsep, model, pendidik, kurikulum, media, dan seterusnya harus diterapkan khususnya dalam bidang pendidikan berbasis keislaman. Bersamaan dengan itu, literasi digital harus diperkuat yang berasas moral dan etika, semua komponen pendidikan harus berkontribusi akan hal itu (sekolah, keluarga, dan lingkungan) terkhususnya lagi guru keagamaan yang titik tekannya adalah pembinaan karakter (afeksi). Sehingga dengan demikian proses membangun sumber daya manusia yang saleh individual dan saleh sosial (holistik) akan semakin tercium aromanya, semakin dekat dengan kenyataannya.

Komentar